Dialogue

Vocabulary

Learn New Words FAST with this Lessonโ€™s Vocab Review List

Get this lessonโ€™s key vocab, their translations and pronunciations. Sign up for your Free Lifetime Account Now and get 7 Days of Premium Access including this feature.

Or sign up using Facebook
Already a Member?

Lesson Notes

Unlock In-Depth Explanations & Exclusive Takeaways with Printable Lesson Notes

Unlock Lesson Notes and Transcripts for every single lesson. Sign Up for a Free Lifetime Account and Get 7 Days of Premium Access.

Or sign up using Facebook
Already a Member?

Lesson Transcript

Sepasang Mata Bola
Sepasang Mata Bola adalah lagu gubahan komponi Ismail Marzuki. Musisi kelahiran Jakarta tahun 1914 ini adalah komponis di zaman perjuangan yang karyanya terus populer hingga sekarang. Dikenal sebagai penulis lagu-lagu perjuangan, lagu ciptaan Ismail Marzuki sebenarnya memiliki tema yang bervariasi dalam berbagai aliran musik. Karya-karya Ismail Marzuki melodius, bersyair kuat dan memiliki nilai keabadian. Lagu-lagunya menggugah semangat nasionalisme, seperti Gugur Bunga dan Halo-halo Bandung.
Walaupun ditulis di masa perang, lagu-lagu Ismail Marzuki tak lantas melulu tentang semangat mengusir penjajah. Ia melihat masa perang dari sisi lain dan lahirlah karya-karya sentimental berlatar perang yang membuat hati sarat dengan nostalgia apabila didengar sekarang.
Lagu Sepasang Mata Bola bercerita tentang pertemuan laki-laki dan perempuan di stasiun kereta api. Sang perempuan baru tiba di Yogyakarta ketika melihat sepasang mata menatapnya dari balik jendela keretanya. Di sana berdiri seorang perwira yang baru saja tiba dari Jakarta terlihat takut dan ragu namun ada kerelaan tesirat di wajahnya untuk menjalani tugasnya di Yogyakarta. Mereka berdua bertatapan, sang perempuan terpikat, dan mendoakan perwira agar ia selamat supaya mereka bisa bertemu kembali.
Dalam lirik yang singkat, Ismail Marzuki mengetengahkan berbagai perasaan yang dirasakan oleh banyak orang di masa itu. Pengamatan Ismail Marzuki terhadap sisi romantisme perang melahirkan lagu-lagu yang bertema cinta dan perjuangan. Lagu-lagunya yang masih dinikmati hingga sekarang adalah Selendang Sutra, Melati di Tapal Batas, Aryati, Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.
Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2004, Ismail Marzuki dianugerahi gelar pahlawan nasional.

1 Comment

Hide
Please to leave a comment.
๐Ÿ˜„ ๐Ÿ˜ž ๐Ÿ˜ณ ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜’ ๐Ÿ˜Ž ๐Ÿ˜  ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜… ๐Ÿ˜œ ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜ญ ๐Ÿ˜‡ ๐Ÿ˜ด ๐Ÿ˜ฎ ๐Ÿ˜ˆ โค๏ธ๏ธ ๐Ÿ‘

IndonesianPod101.com Verified
Thursday at 06:30 PM
Pinned Comment
Your comment is awaiting moderation.

Sepasang Mata Bola

Sepasang Mata Bola adalah lagu gubahan komponi Ismail Marzuki. Musisi kelahiran Jakarta tahun 1914 ini adalah komponis di zaman perjuangan yang karyanya terus populer hingga sekarang. Dikenal sebagai penulis lagu-lagu perjuangan,  lagu ciptaan Ismail Marzuki sebenarnya memiliki tema yang bervariasi dalam berbagai aliran musik. Karya-karya Ismail Marzuki melodius, bersyair kuat dan memiliki nilai keabadian. Lagu-lagunya menggugah semangat nasionalisme, seperti Gugur Bunga dan Halo-halo Bandung.

Walaupun ditulis di masa perang, lagu-lagu Ismail Marzuki tak lantas melulu tentang semangat mengusir penjajah. Ia melihat masa perang dari sisi lain dan lahirlah karya-karya sentimental berlatar perang yang membuat hati sarat dengan nostalgia apabila didengar sekarang.

Lagu Sepasang Mata Bola bercerita tentang pertemuan laki-laki dan perempuan di stasiun kereta api. Sang perempuan baru tiba di Yogyakarta ketika melihat sepasang mata menatapnya dari balik jendela keretanya. Di sana berdiri seorang perwira yang baru saja tiba dari Jakarta terlihat takut dan ragu namun ada kerelaan tesirat di wajahnya untuk menjalani tugasnya di Yogyakarta. Mereka berdua bertatapan, sang perempuan terpikat, dan mendoakan perwira agar ia selamat supaya mereka bisa bertemu kembali.

Dalam lirik yang singkat, Ismail Marzuki mengetengahkan berbagai perasaan yang dirasakan oleh banyak orang di masa itu. Pengamatan Ismail Marzuki terhadap sisi romantisme perang melahirkan lagu-lagu yang bertema cinta dan perjuangan. Lagu-lagunya yang masih dinikmati hingga sekarang adalah  Selendang Sutra, Melati di Tapal Batas, Aryati, Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi, Payung Fantasi, Sabda Alam, Kopral Jono, dan Sersan Mayorku.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2004, Ismail Marzuki dianugerahi gelar pahlawan nasional.