Dialogue

Vocabulary

Learn New Words FAST with this Lessonโ€™s Vocab Review List

Get this lessonโ€™s key vocab, their translations and pronunciations. Sign up for your Free Lifetime Account Now and get 7 Days of Premium Access including this feature.

Or sign up using Facebook
Already a Member?

Lesson Notes

Unlock In-Depth Explanations & Exclusive Takeaways with Printable Lesson Notes

Unlock Lesson Notes and Transcripts for every single lesson. Sign Up for a Free Lifetime Account and Get 7 Days of Premium Access.

Or sign up using Facebook
Already a Member?

Lesson Transcript

Sang Legenda Teguh Karya
Perfilman Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama besar Teguh Karya. Beliau adalah tokoh legendaris yang karya-karyanya terkenal luas sejak tahun 1970an sampai tahun 1990an. Teguh Karya yang terlahir dengan nama Steve Liem Tjoan Hok adalah sutradara terbesar Indonesia. Dari tangannya pula telah lahir banyak aktor dan aktris kenamaan di Indonesia antara lain Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Alex Komang.
Teguh Karya memiliki latar belakang teater khususnya pengarah seni. beliau adalah pemimpin Teater Populer sejak berdirinya di tahun 1968. Teater ini yang berpusat di Hotel Indonesia Jakarta ini, beranggota para mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia dan para peminat teater lainnya. Dalam perkembangannya teater ini bersama Teguh Karya dan aktor-aktrisnya memiliki pengaruh kuat di dunia perfilman Indonesia.
Dinominasikan untuk Piala Citra sembilan kali, Teguh Karya dinobatkan enam kali menjadi sutradara terbaik lewat karya-karyanya, yaituโ€”Cinta Pertama (tahun 1974), Ranjang Pengantin (tahun 1975), November 1828 (tahun 1978), Di Balik Kelambu (tahun 1983), Ibunda (tahun 1986) dan Pacar Ketinggalan Kereta (tahun 1988). Karya Teguh Karya umumnya membekas dan menjadi film yang berpangaruh di masanya.
Film-film yang disutradarainya biasanya ditandai dengan cerita yang baik dan mengalir, dengan kekuatan pada karakter tokohnya. Biasanya film menampilkan potret masyarakat Indonesia umumnya dengan problem riil kesehariannya seperti rumahtangga dalam film Ibunda, perkawinan (dalam film Di Balik Kelambu), percintaan (dalam film Pacar Ketinggalan Kereta). Di samping itu beliau juga tertarik menggarap epik sejarah seperti kisah Pangeran Diponegoro (November 1828) dan Doea Tanda Mata. Dia dikenal sangat memperhatikan detil, baik detil dalam cerita dan dialog tokohnya maupun juga detil pada set, pemilihan lokasi, dan pencahayaan. Di samping itu karena latar belakang Pengarah Seninya, karya Teguh Karya memiliki kecenderungan artistik. Boleh jadi obsesi pada detil dan artistik di dalam cerita-cerita keseharian inilah yang menyebabkan karya-karya beliau meninggalkan kesan yang kuat pada penontonnya.
Teguh adalah pria yang selalu berpenampilan sederhana, sangat dihormati dan dicintai oleh teman-teman seprofesi, maupun para seniman lain. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman. Beliau meninggal pada 11 Desember 2001 pada usia 64 tahun.

1 Comment

Hide
Please to leave a comment.
๐Ÿ˜„ ๐Ÿ˜ž ๐Ÿ˜ณ ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜’ ๐Ÿ˜Ž ๐Ÿ˜  ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜… ๐Ÿ˜œ ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜ญ ๐Ÿ˜‡ ๐Ÿ˜ด ๐Ÿ˜ฎ ๐Ÿ˜ˆ โค๏ธ๏ธ ๐Ÿ‘

IndonesianPod101.com Verified
Thursday at 06:30 PM
Pinned Comment
Your comment is awaiting moderation.

Sang Legenda Teguh Karya

Perfilman Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama besar Teguh Karya.  Beliau adalah tokoh legendaris yang karya-karyanya terkenal luas sejak tahun 1970an sampai tahun 1990an. Teguh Karya yang terlahir dengan nama Steve Liem Tjoan Hok adalah sutradara terbesar Indonesia. Dari tangannya pula telah lahir banyak aktor dan aktris kenamaan di Indonesia antara lain Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Alex Komang.
Teguh Karya memiliki latar belakang teater khususnya pengarah seni. beliau adalah pemimpin Teater Populer sejak berdirinya di tahun 1968.  Teater ini yang berpusat di Hotel Indonesia Jakarta ini, beranggota para mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia dan para peminat teater lainnya. Dalam perkembangannya teater ini bersama Teguh Karya dan aktor-aktrisnya memiliki pengaruh kuat di dunia perfilman Indonesia.
Dinominasikan untuk Piala Citra sembilan kali, Teguh Karya dinobatkan enam kali menjadi sutradara terbaik lewat karya-karyanya, yaitu: Cinta Pertama (1974), Ranjang Pengantin (1975), November 1828 (1978), Di Balik Kelambu (1983), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1988). Karya Teguh Karya umumnya membekas dan menjadi film yang berpangaruh di masanya.
Film-film yang disutradarainya biasanya ditandai dengan cerita yang baik dan mengalir, dengan kekuatan pada karakter tokohnya. Biasanya film menampilkan potret masyarakat Indonesia umumnya dengan problem riil kesehariannya seperti rumahtangga (Ibunda), perkawinan (Di Balik Kelambu), percintaan (Pacar Ketinggalan Kereta). Di samping itu beliau juga tertarik menggarap epik sejarah seperti kisah Pangeran Diponegoro (November 1828) dan Doea Tanda Mata. Dia dikenal sangat memperhatikan detil, baik detil dalam cerita dan dialog tokohnya maupun juga detil pada set, pemilihan lokasi, dan pencahayaan. Di samping itu karena latar belakang Pengarah Seninya, karya Teguh Karya memiliki kecenderungan artistik.  Boleh jadi obsesi pada detil dan artistik di dalam cerita-cerita keseharian inilah yang menyebabkan karya-karya beliau meninggalkan kesan yang kuat pada penontonnya. 
Teguh adalah pria yang selalu berpenampilan sederhana, sangat dihormati dan dicintai oleh teman-teman seprofesi, maupun para seniman lain. Bagi para seniman ia dianggap sebagai bapak, guru, sekaligus teman. Beliau meninggal pada 11 Desember 2001 pada usia 64 tahun.